MATERI PEMBELAJARAN

 

MAPEL                :  SOSIOLOGI

KELAS                  : XI. IPS

SEMESTER       : 2

 

 

DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL

 

 

Oleh :

WAWAN SAFA’AT, S.pd.

Nip. 197009282006041009

 

 

 

 

 

SMA 3 REMBANG

Jl. GAJAH MADA NO. 8 REMBANG

  1. 1.      PENGANTAR

Masyarakat di berbagai belahan dunia, mengalami perkembangan yang makin lama kompleks. Kelompok sosial sebagai bentuk pengelompokan manusia, selalu berinteraksi dan memiliki sifat tidak statis. Berbagai Kelompok sosial yang terbentuk dalam masyarakat memiliki perkembangan yang tidak sama. Untuk memahami perkembangan dan perubahan kelompok sosial, perlu kiranya dipelajari dinamika kelompok sosial.

  1. 2.        PETUNJUK

Dalam menggunakan modul ini, peserta didik harus belajar secara individu dan kelompok. Untuk memudahkan dalam pemahaman dan kemampuan dalam menguasai materi terutama tentang dinamika kelompok sosial.

  1. 3.      STANDAR KOMPETENSI

Menganalisis kelompok sosial dalam masyarakat multicultural

  1. 4.       KOMPETENSI DASAR

Menganalisis perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat multicultural.

 

  1. 5.      INDIKATOR
    1. Menjelaskan pengertian Dinamika kelompok sosial.
    2. Mengidentifikasi aspek-aspek dinamika kelompok sosial.
    3. Menjelaskan factor pendorong dinamika kelompok sosial.
    4. Mendeskripsikan perkembangan berbagai kelompok sosial.
  1. 6.      KEMAMPUAN PRASYARAT

Perkembangan kelompok-kelompok sosial akan menentukan kehidupan kelompok di masa yang akan dating. Lebih dari itu, perkembangan masyarakat yang semakin rumit dengan adanya Heterogenitas dan Spesialisasi yang tinggi menyebabkan diperlukan kelompok-kelompok resmi di bentuk.

  1. 7.      PRE TEST

Kelompok-kelompok sosial yang terdapat dalam masyarakat selalu mengalami dinamika. Apa yang di maksud dengan dinamika kelompok sosial ? Faktor apa yang mendorong terjadinya dinamika kelompok sosial ? serta dampak apa yang di timbulkannya ?

  1. 8.      KEGIATAN BELAJAR
    1. A.    KONSEP DASAR DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL
      1. 1.        Pengertian

Dinamika kelompok sosial dapat didefinisikan sebagai proses perubahan dan perkembangan akibat adanya interaksi dan interdependensi, baik antar anggota kelompok maupun antara anggota suatu kelompok dengan kelompok lain.

Kelompok sosial yang terbentuk dalam masyarakat, berupa kelompok sosial kecil ( pertemanan dan kekerabatan ) dan kelompok sosial besar ( masyarakat desa, kota, dan bangsa ). Kelompok sosial tersebut bersifat dinamis, dalam arti selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan dalam kelompok tersebut memunculkan pengaruh terhadap kehidupan kelompok pada masa berikutnya.

  1. 2.      Aspek Dinamika Kelompok Sosial

Menurut Floyd D, dinamika kelompok atau group dynamics merupakan analisis hubungan kelompok-kelompok sosial di mana tingkah laku dalam kelompok adalah hasil interaksi yang dinamis antara individu dalam situasi sosial tertentu. Kehidupan kelompok akan ditandai dengan pembentukan struktur, norma, solidaritas, rasa memiliki dan internalisis.

Ruth Benedict, mengemukan pendapat bahwa aspek yang dipelajari dalam dinamika kelompok sosial adalah sebagai berikut.

  1. a.      Kohesi atau Persatuan

Aspek kohesi akan Nampak jelas dari tingkah laku para anggota kelompok, missal proses pengelompokan, intensitas anggota, arah pilihan, dan nilai-nilai dalam kelompok.

  1. b.      Motif atau Dorongan

Aspek motif berkaitan erat dengan perhatian anggota terhadap kehidupan kelompok, missal kesatuan kelompok, tujuan bersama, dan orientasi diri terhadap kelompok.

  1. c.       Struktur

Aspek ini nampak sekali pada bentuk pengelompokan, bentuk hubungan, perbedaan kedudukan antaranggota dan pembagian tugas.

  1. d.      Pimpinan

Aspek pimpinan memiliki peran penting dalam kehidupan kelompok sosial. Hal ini nampak dari bentuk kepemimpinan, tugas pimpinan, dan sistem kepemimpinan.

  1. e.       Perkembangan Kelompok

Aspek perkembangan kelompok dapat diamati dari perubahan dalam kelompok dan sebagainya.

Perkembangan masyarakan yang makin lama makin kompleks, mempengaruhi keberadaan kelompok sosial yang ada. Oleh karena memiliki peran penting, maka banyak pihak menyadari peran penting mempelajari dinamika kelompok sosial dengan alas an sbb :

  1. Kelompok sosial merupakan kesatuan sosial yang selalu ada dalam setiap masyarakat.
  2. Dinamika kelompok sosial berkaitan dengan perubahan sosial dan kebudayaan masyarakat, sehingga relevan dengan kebijakan pemerintah dalam proses pembangunan daerah.
  1. B.      FAKTOR PENDORONG DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL

Dinamika kelompok sosial dalam masyarakat menyebabkan perubahan dan perkembangan kelompok sosial yang makin kompleks. Perkembangan tersebut tidak lepas dari factor pendorong yaitu sebagai berikut.

  1. 1.      Faktor Pendorong dari Luar

Faktor pendorong dari luar atau ekstern merupakan pengaruh dari luar yang menyebabkan dinamisnya suatu kelompok sosial, yang meliputi berikut.

  1. a.         Perubahan Situasi Sosial

Terjadinya situasi sosial yang berubah, missal pembentukan kabupaten baru atau provinsi baru, industrialisasi, ruralisasi, dan sebagainya dapat mendorong perkembangan kelompok sosial. Misal akibat industrialisasi, pola masyarakat paguyuban yang berdasarkan nilai kebersamaan/gotong royong bergeser menjadi kelompok patembayan yang berpegang pada nilai individualistis.

  1. b.        Perubahan Situasi Ekonomi

Situasi ekonomi masyarakat yang berubah, mendorong pula terjadinya perubahan pada kelompok sosial. Misal perubahan dari masyarakat pedesaan dengan segala karakterya menjadi masyarakat perkotaan yang memiliki karakteristik yang beerlainan.

  1. c.         Perubahan situasi politik

terjadinya pergantian pemegang kekuasaan atau sekitar elite kekuasaan atau perubahan kebijaksanaan penguasa dapat menyebabkan perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat.

  1. 2.      Faktor Pendorong dari Dalam

Faktor dari dalam (intern) kelompok yang menyebabkan timbulnya dinamika kelompok sosial adalah sebagai berikut.

  1. a.      Konflik Antarangggota Kelompok

Konfik yang terjadi antar anggota dalam kelompok sosial dapat membawa pengaruh keretakan dan berubahnya pola hubungan sosial. Akibat konflik teersebut akan menyebabkan teerpecahnya sebuah kelompok sosial.mial seseorang yang menjadi anggota kelompok sosial, karena merasatidak cocok dengan angggota lain (in group) maka menjadi out group dari kelompok sosial tersebut.

  1. b.      Perbedaan kepentingan   

Dasar terbentuknya kelompok sosial adalah kepentingan yang sama. Begitu terjadi perbedaan kepentingan, maka kelangsunganhidup kelompok soaial tersebut akan teerpecah.anggota kelompok yang merasa tidak lagi sepaham berusaha memisahkan diri dan bergabung dengan kelompok lain yang sepaham.

  1. c.       Perbedaan Paham

Perbedaan paham diantara anggota kelomp-ok sosial dapat mempengaruhi kelangsungan kelompok tersebut. Perbedaan paham tersebut akan berpengaruh terhadap keberadaan kelompok sosial dalam mayarakat.

  1. C.    PERKEMBANGAN BERBAGAI KELOMPOK SOSIAL
    1. 1.      Kelompok Kekerabatan

Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam masyarakat. Kelompok keluarga dapat dijumpai dalam setiap masyarakat didunia. Keluarga inti atau keluarga batih terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anaknya yang belum menikah. Keluarga inti berfungsi memberikan sosialisasi dan perlindungan  kepada anak-anak, dan mendidik mereka sampai mandiri. Dari keluarga inti berkembang menjadi keluarga besar ( extended family) yang dinamakan kelompok kekerabatan. Dalam kekerabatan terdapat hubungan darah atau persaudaraan. Kelompok tersebut menjadi awal terbentuknya masyarakat. Pada dasarya kelompok kekerabatan merupakan masyarakat homogin yang menganut nilai, norma ataupun tingkah laku yang relatif sama, sehingga pembagian kerja dilakukan secara sederahana berlandaskan pada tradisi dan perbedaan jenis kelamin. Dalam kelompok kekerabatan, nilai tradisional masih dijunjung tinggi. Kehidupan kelompok berpusat pada tradisi kebudayaan yang telah dipelihara secara turun temurun. Soerjono soekanto menyatakan, kemungkinnan untuk mengubah tradisi kebudayaan yang telah dipelihara turun temurun memang sulit. Namun, melalui inovasi secara bertahap, perubahan dalam kelompok kekerabatan dapat terjadi meskipun dalam waktu yang cukup lama.

  1. 2.       Kelompok Okupasional 

Semula kelompok okupasional terbentuk dalam masyarakat yang bersifat homogen. Dalam masyarakat, seseorang individu kemungkinan melakukan berbagai pekerjaan. Spesialisasi pekerjaan yang mulai tumbuh dalam masyarakat sejalan dengan pengaruh dunia luar dan berakibat masyarakat menjadi heterogen. Spesialisasi pekerjaan makin berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat. Hal ini diimbangi dengan perkembangan lembaga pendidikan sehingga menghasilkan orang yang ahli dalam ilmu tertentu (professional). Dalam masyarakat yang heterogen tersebut, muncul kelompok okupasional. Kelompok okupasional merupakan kelompok anggota masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang ahli dan dari kalangan profesional yang memiliki etika profesi. Misal Ikatan Dokter Indonesia (IDI), PERsatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), serikat buruh, Parfi, dan sebagainya.

  1. 3.      Kelompok Volunter

Berkembangnya sarana komunikasi secara luas dan cepat menyebabkan tidak ada masyarakat yang benar-benar tertutup terhadap dunia luar. Heterogenitas masyarakat semakin luas. Makin berkembangnya masyarakat berakibat tidak semua kebutuhan anggota masyarakat dapat terpenuhi. Oleh karena itu muncullah kelompok volunteer.

Kelompok volunteer terdiri atas individu yang memiliki kepentingan yang sama, tetapi tadak mendapat perhatian dari masyarakat yang semakin luas daya jangkauannya. Kelompok volunter berusaha memenuhi kebutuhan anggotanya secara mandiri tanpa mengganggu kepentingan masyarakat umum. Kelompok volunter dapat berkembang menjadi kelompok yang mantap karena diakui keberadaannya oleh masyarakat umum. Missal lembaga pemantau pemilu di Indonesia, lembaga quick count pemilu, dan sebagainya.

  1. 4.      Masyarakat Perdesaan
    1. a.      Pengertian

Masyarakat tradisional merupakan masyarakat yang sebagian besar/keseluruhan aktivitasnya berkaitan erat dengan tradisi, baik yang berkaitan dengan religi maupun nonreligi. Masyarakat tradisional pada umumnya hidup di perdesaan, sehingga dapat diidentikkan dengan masyarakat perdesaan.

H. Landis mengemukan desa dari aspek statistic, psikologi sosial, dan ekonomi. Dari statistic, perdesan adalah tempat dengan penduduk kurang dari 2.500 orang. Psikologi sosial, perdesaan adalah daerah di mana pergaulannya ditandai dengan derajat intemasi/ keakrabannya yang sangat tinggi. Sedangkan kota adalah tempat di mana hubungan sesame individu sangat impersonal/longer. Aspek ekonomi, perdesaan adalah daerah di mana pusat perhatian/ kepentingan adalah pertanian dalam arti yang luas.

Bintarto mendefinisikan perdesaan sebagai suatu hasil perpaduan antara kegiatan kelompok manusia dengan lingkungan. Hasil dari perpaduan berupa bentuk di muka bumi yang di timbulkan oleh unsure fisiografi, sosial dan ekonomi, politik dan cultural yang saling berinteraksi antarunsur serta dalam hubungan dengan daerah lain. Unsure desa meliputi daerah, penduduk, dan tata kehidupan. Ketiganya dikatakan sebagai living unit atau satu kesatuan hidup yang tidak dapat dilepaskan satu sama lain.

Secara sosiologis, pengertian desa memberikan penekanan pada kesatuan masyarakat pertanian dalam suatu masyarakat yang jelas menurut susunan pemerintahannya. Kehidupan di desa sering dinilai sebagai kehidupan yang tentram, damai, selaras, jauh dari perubahan yang dapat menimbulkan konfik.

Perlu ditandaskan bahwa tidak semua masyarakat desa dapat disebut masyarakat tradisional, sebab ada sebagian desa yang sedang mengalami perubahan ke arah kemajuan dengan meninggalkan kebiasaan lama. Sehingga lebih ditekankan pada masyarakat desa yang begada di perdalaman dan kurang memahami perubahan/pengaruh dari kehidupan kota.

  1. b.      Ciri masyarakat desa

Menurut Redfield, cirri masyarakat pra industry atau primitive meliputi berikut

1)       Agak rendah perkembangan pengetahuan dan teknologinya

2)      Komunitasnya kecil (sampai ratusan jiwa)

3)      Belum banyak mengenal pembagiaan kerja dan spesialisasi.

4)      Masih tidak banyak deferensiasi kemasyarakatan.

5)      Tidak ada heterogenitas kebudayaan.

6)      Terdapat cirri orde moral yaitu prinsip hidup yang mengikat.

Sedangkan ciri masyarakat desa di Indonesia meliputi berikut.

1)       Berkaitan dengan tradisi masyarakat

2)      Memiliki rangkaian sistem teknologi yang sederhana.

3)      Bersifat tetap/tidak banyak mengalami perubahan.

4)      Memiliki sifat sederhana dan daya pakai serta produktivitas yang relatif  rendah.

5)      Dalam beberapa hal memiliki sifat rasional.

6)      Tingkat buta huruf relatif tinggi.

7)      Hukum yang berlaku tidak tertulis, tidak kompleks.

8)      Ekonomi produksi untuk keperluan keluarga.

  1. c.       Dinamika dalam Masyarakat Pedesaan

Secara sosiologis, mentalitas individu dominan dibentuk oleh situasi tata pergaulan dalam masyarakat, termasuk di dalamnya tekanan hidup. Masyarakat tradisional yang tinggal di desa pada umumnya masih lugu, polos, jujur, lemah dan pamrih, semangat solidaritas tinggi dan murni. Adapun factor yang mempengaruhi mentalitas tersebut adalah sbb.

1)      Tekanan hidup terasa lebih ringan.

2)      Masih memiliki waktu yang cukup dan seimbang antara rohaniah dengan keduniawian.

3)      Letaknya di perdalaman berakibat belum banyak dicemari pengaruh media masa.

4)      Kehidupan paguyuban menjadikan warga saling mengenal dan akrab.

Masyarakat perdesaan atau rural community merupakan masyarakat yang pada umumnya memiliki mata pencaharian bertani, berkebun, berladang. System kehidupan biasanya berkelompok atas dasar kekeluargaan dan mempunyai hubungan yang erat serta mendalam di antara anggotanya.

Cara bertani masih dilakukan dengan tradisional dan tidak efisien karena belum dikenal mekanisasi dalam pertanian. Kegiatan bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga atau masyarakatnya sendiri, bukan untuk dijual.

Ditinjau dari aspek kepemimpinan, hubungan antara pemimpin dan rakyat berlangsung secara informal. Seorang pimpinan memiliki beberapa kedudukan dan peranan yang sulit dipisahkan, sehingga segala sesuatu dipusatkan pada seorang kepala desa.

Perubahan pada masyarakat pedesaan sulit dilakukan karena pola piker masyarakat (terutama generasi tua) masih didasarkan pada tradisi. Disamping itu juga kurang meratanya proses pembangunan dan informasi sehingga menimbulkan kondisi ang kontras antara masyarakat perdesaan dengan masyarakat perkotaan.

Dengan berkembangnya iptek, informasi melalui media masa mulai masuk ke masyarakat perdesaan. Hal ini berakibat perubahan karakter/watak, bahkan menghilangkan karakter masyarakat perdesaan. Meskipun pengaruh media masa tidak selalu negatif.

Di Indonesia, desa memiliki peran penting, mengingat mayoritas penduduk tinggal di perdesaan. Menurut bintarto, desa memiliki fungsi berikut.

1)      Hinterland atau daerah dukung yang berperan sebagau daerah pemberi makanan pokok yang tidak dapat dihasilkan kota.

2)      Dari sudut ekonomi, berfungsi sebagai lumbung bahan mentah (raw material) dan tenaga kerja (man power).

3)      Dari segi kegiatan/okupasi, desa merupakan desa agraris, manufaktur, industry, dan sebagainya.

Masyarakat perdesan memiliki keyakinan yang mendalam terhadap norma sosial, sehingga mereka memiliki sifat sulit berubah. Hal ini menguntungkan dalam pembakuan akhlak dan budi perkerti, namum merugikan dalam perkembangan iptek. Kepatuhan warga bukan karena takut terhadap sanksi sosial, melainkan keyakinan mendalam akan kebenaran nilai sosial dalam norma. Factor yang mendukung kepatuhan murni yaitu :

1)      Kehidupan rohani lebih tebal dan berkembang lebih subur.

2)      Tuntutan hidup relative ringan.

3)      Letaknya yang terpencil dan komunikasi tertutup menghambat masuknya pengaruh negative.

4)      Jumlah penduduk relative sedikit dan saling mengenal.

  1. 5.      Mayarakat Perkotaan
    1. a.      Pengertian

Masyarakat modern merupakan masyarakat yang sebagian besar warganya memiliki orientasi budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban dunia masa kini. Masyarakat perkotaan merupakan sekelompok orang yang hidup bersama pada suatu wilayah tertentu yang menjadi suatu pusat politik pemerintahan dan atau industri, perdagangan, kebudayaan dengan memperlihatkan sifat atau ciri corak pergaulan dan tata kehidupan yang berbeda dengan masyarakat desa. Sedangkan secara sosiologis, pengertian kota terletak pada sifat dan cirri kehidupan dan bukan ditentukan oleh menetapnya sejumlah penduduk di suatu wilayah perkotaan.

Di berbagai Negara berkembang, seperti Indonesia, masyarakat modern disebut juga masyarakat kota.

  1. b.      Ciri masyarakat Modern/Kota

Selo Soemardjan mengemukakan sbb :

  1. Hubungan antar manusia di dasarkan atas kepentingan pribadi.
  2. Hubungan dengan masyarakat lain dilakukan secara terbuka dan saling memengaruhi.
  3. Percaya pada fungsi iptek untuk meningkatkan kesejahteraan.
  4. Masyarakat tergolong menurut bermacam-macam profesi dan keahlian.
  5. Tingkat pendidikan formal merata dan tinggi.
  6. Hokum tertulis yang sangat kompleks.
  7. Dominan ekonomi pasar berdasarkan penggunaan uang.

Soerjono Soekanto mengemukakan ciri manusia modern adalah sebagai berikut.

  1. Orang yang bersikap terbuka terhadappengalaman dan penemuan baru (tidak ada prasangka).
  2. Siap untuk menerima perubahan setelah menilai kekurangan yang dihadapinya.
  3. Peka terhadap masalah yang terjadi di sekitarnya.
  4. Memiliki informasi yang lengkap mengenai pendiriannya.
  5. Lebih banyak berorientasi ke masa kini dan mendatang.
  6. Senantiasa menyadari potensi yang ada pada dirinya dan yakin dapat dikembangkan.
  7. Tidak pasrah pada nasib.
  8. Percaya pada manfaat iptek.
  9. Menyadari dan menghormati hak, kewajiban, dan kehormatan orang pihak lain.
  1. c.       Dinamika Masyarakat Perkotaan

Masyarakat perkotaan atau urban community merupakan kelompok social yang mendiami wilayah yang luas, sebagian besar penduduknya bermata pencaharian disektor industry, jasa, dan perdagangan. Keanggotaan masyarakat kota tidak saling mengenal, lebih terikat kontrak dan mulai meninggalkan tradisi.

Kehidupan kota yang sangat kompetitif dan selektif dapat meruntuhkan kesetiakawanan, silidaritas social yang dapat menggeser nilai social dalam masyarakat. Agak rendahnya mentalitas masyarakat perkotaan disebabkan oleh berikut.

1)      Tekanan hidup yang keras, di mana kehidupan makin kompetitif.

2)      Kemajuan iptek menghasilkan barang yang serba menarik dan mendorong untuk memilikinya.

3)      Kehidupan banyak kegiatan dan kesibukan, sehingga orang tidak ramah, masa bodoh dan egoistis.

4)      Jumplah penduduk yang besar membuat hidup sulit, sehingga muncul perbuatan curang.

Mentalitas masyarakat perkotaan dapat dilihat dari cirri-ciri struktur sosialnya yaitu sbb :

1)      Heterogenitas social dalam berbagai aspek kehidupan.

2)      Hubungan antar penduduk bersifat sekunder/pengenalan serba terbatas pada kehidupan tertentu.

3)      Pengawasan sekunder, di mana secara fisik berdekatan, namun secara social berjauhan.

4)      Mobilitas sosial sangat tinggi dan didasarkan pada profesi.

5)      Ikatan perkumpulan bersifat sukarela.

6)      Individualism, sebaiknya gotong royong melemah.

Mentalitas masyarakat modern berorientasi pada system nilai budaya yang didasarkan alam pikiran dan alam jiwa yang rasional. Cirri system nilai budaya ini diantaranya : sikap menghargai karya orang lain, menghargai waktu, menghargai mutu, berfikir kreatif, efisien dan produktif, percaya pada diri sendiri, berdisiplin dan bertanggungjawab.

Berkebalikan dengan masyarakat pedesaan, masyarakat perkotaan memiliki tatanan nilsi yang heterogen. Masyarakat kota terdiri atas berbagai suku bangsa, agama, adat istiadat, menjalankan fungsi pusat administratif dan pusat komersial, bahkan pusat konsentrasi kegiatan yang menjadi indikator modernisasi. Hal ini menyebabkan kota menjadi daya tarik bagi masyarakat desa untuk melakukan urbanisasi.

Faktor penyebab dinamika sosial dalam masyarakat perkotaan adalah sebagai berikut.

1. Faktor pendidikan.

2. Faktor urbanisasi.

3. Faktor komunikasi.

4. Industrialisasi dan mekanisasi.

5. Ekonomi.

6. Sosial.

7. Politik.

8. Budaya.

Dampak dari dinamika masyarakat perkotaan adalah sebagai berikut :

  • Dampak positif

a. Tingkat pendidikan lebih merata.

b. Komunikasi dan informasi lebih cepat dan mudah.

c. Profesionalitas lebih terjaga.

d. Pembangunan dalam berbagai bidang lebih terjamin.

  • Dampak negative
  1. Munculnya sikap individualitas.
  2. Memudarnya nilai kebersamaan.
  3. Munculnya sikap kurang mempercayai pihak lain.
  4. Memudarnya perhatian terhadap budaya lokal dan budaya nasional, terutama di kalanan generasi muda.

Dalam hal ini perlu kiranya dibahas mengenai perbedaan masyarakat tradisional dengan masyarakat modern yang nampak jelas pada table

Mentalitas Tradisional/Pedesaan Mentalitas Modern/Pekotaan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Menolak pengalaman baru dan tetutup terhadap pembaharuan dan perubahan.

Ketidaksanggupan berempati.

Orientasi pandangan ke masa lalu.

Perencanaan tidak penting.

Tidak yakin manusia dapat menguasai alam.

Dikuasai oleh keadaan

Kurang ada pengakuan terhadap harga diri

Kurang percaya pada ilmu dan teknologi

Kurang percaya pada keadilan dalam pembagian.1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

3.Menerima pengalaman baru dan terbuka terhadap pembaharuan dan perubahan.

Kesanggupan berempati.

Orientasi pandangan ke masa kini dan masa depan.

Perencanaan penting.

Yakin manusia dapat menguasai alam.

Keadaan dapat diperhitungkan.

Pengakuan terhadap harga diri.

Percaya pada ilmu dan teknologi.

Percaya pada keadilan dalam pembagian.

Ciri tersebut dapat mekekat atau dimiliki bauk masyarakat pedesaan maupun masyarakat perkotaan, masyarakat industry maupun masyarakat agraris. Karena cirri modern dan tradisional adalah ekspresi dari kondisi mental psikis/kejiwaan manusia yang yang sering terlepas dari kondisi social yang melingkupinya. Dengan demikian tidak secara otomatis individu yang hidup dalam masyarakat industry/kota memiliki karakter manusia modern.

LEMBAR KERJA SISWA

Kerjakan tugas berukut secara singkat dan jelas!

  1. Bagaimanakah perkembangan kelomok social dalam masyarakat?

Jawab:

  1. Jelaskan bentuk garis keturunan dalam kelompok kekerabatan di Indonesia!

Jawab:

  1. Kerjakan tabel dibawah ini dengan jawaban singkat dan jelas!

Jawab:

No. Masalah Uraian
1. Paguyuban trah
2. Kelompok profesi
3. Awal timbulnya kelompok volunter
4. Masyarakat tradisional
5. Masyarakat modern

UJI KOMPETENSI

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas!

  1. Jelaskan pengertian dari dinamika kelompok sosial?
  2. Sebutkan aspek-aspek yang dikaji dalam dinamika kelompok sosial!
  3. Factor apa sajakah yang menyebabkan adanya dinamika kelompok sosial?
  4. Bagaimanakah latar belakang munculnya kelompok okupasional?
  5. Bagaimana cara menarik garis keturunan dalam kelompok kekerabatan?

TINDAK  LANJUT

Nilai tertinggi 100,kkm 68. Apabila ada peserta didik yang mendapat nilai dibawah 68, peserta didik harus mengikuti program remidi.

RANCANGAN REMIDIAL

  1. Jelaskan aspek dinamika dalam kelompok sosial menurut ruth benedict!
  2. Bagaimanakah perubahan situasi politik dengan dinamika kelompok sosial ?
  3. Bagaimanakah tujuan dibentuknya kelompok volunteer dalam masyarakat ?

KUNCI JAWABAN

  1. Proses perubahan dan perkembangan kelompok social akibat  dan interdependensi antaranggota kelompok maupun dengan kelompok lain dalam masyarakat.
  2. 2.  Kohesi, motif, struktur, pimpinan, dan perkembangan kelompok.
  3. a. Faktor dari luar       :       – perubahan situasi social

- Perubahan ekonomi

- Perubahan politik

b. Faktor dari dalam    :       – konfik antar anggota

-Perbedaan kepentingan

-Perbadaan paham

  1. Perkembangan masyarakat yang makin dinamis mendorong individu suatu pekerjaan. Mereka masuk dalam perkumpulan profesi atau kelompok okupasional.
  2. Dengan menarik garis keturunan ibu, ayah dan kedua orang tuanya.

DAFTAR ISTILAH

  • Dinamis
  • Extended family
  • Inovasi
  • Intensitas
  • Interdepasi
  • Kohesi
  • Modernisasi
  • Motif
  • Urbanisasi
  • Volunter

 

DAFTAR PUSTAKA

Horton, Paul B dan Hunt, chester L. 1999 sosiologi jilid I, II, Edisi ke enam. Jakarta: Pernerbit Erlangga.

Soekanto, Soerjono dan Dari, Prof, 1993. Struktur masyarakat. Jakarta: CU Rajawali.